smse q ketik ulang cm ada beberapa yg terdelete
Pernahkah kau baca sorot mata
Dalam menyimpan rindu
Terka yang sembunyi disudut hati dara
Terbang ke udara menukik
Bawa seberkas pelangi sejuta impian harapan
Mengapa masih tak kau hiraukan?
Jemari merengkuh dalam tiap langkah
Begitu kental peluh tanpa daya
Merindu hari seperti lalu lusa
Mulai mendera rasa akan asa
Jadikah salju bernafas di sahara…
Senandung cinta bersemi bersama sakura
Benteng jingga tersusun apik mengangkasa
Indah sore dibawah sakura berguguran
Angin muson meniupkan kerinduan
Tanpa jeda indah ini berpacu…
Ketika benar dan fakta isi hadir
Tak elak lagi kau bahagia
Bingkai itu jelas dalam dekap
Samara terlampaui waktu
Tanpa tahu dusta menutup asa
Setiap detik ingin lupakan
Sandiwara atau untai kata
Tak tentu arahnya
Buainya mengusik jiwa sampai terbang
Tak terkendali, akankah selamanya
Atau akan menjadi sebuah cerita
Ku tak sempurna, ku tak berdaya
Asa ingin kurajut, hati ingin terpaut
Menyala api lilin asa
Saat temukan bunga dirapat jerami
Takut tak bisa ku jaga
Api dekat jerami sambarnya
Kobarkan api tak terkendali
Sakiti relung hati…
Kutulis namamu dalam satu alunan rindu
Tanpa syarat akan dayamu
Begitu hati beku karena hampamu
Sosokmu
Bayangmu
Dan rinduku
Dawaikan irama desah
Berbaris rima
Menyendiri duduk dalam gelap
Bersenandung nyanyian kasmaran
Sesekali tersenyum
Entah untuk siapa ku pahat langit
Dengan anganku ukir malam
Dengan baying dan keberanian ku gadaikan
Saat Kau berikan cinta yang ku pesan…
Jingga senja berkalang mendung
Rintik air uraikan tangis
Setiap detik kurasa tahun
Menantimu seperti menunggu salju disahara
Mengharapmu hanya seperti semut mimpi sebrangi lautan
Akankah hatiku berpacu pada satu nama
Dan bungkam atas segala rasa
Deru mesin meraung beradu
Seperti badai hatiku
Yang terus menjeritkan namamu
Seperti bulan ingin membelai bumi
Itulah rinduku padamu
Rindu yang dalam tanpa pamrih
Kutilang belum berhenti berkicau
Desir angina sore tersentuh ujung dedaunan
Suara gemerisiknya terang
Topeng jingga langit
Tersenyum mesra
Hati yang patah kembali tersesakkkan
Teringatku akan engkau menari
Berjingkrak disudut itu
Jingga senja berarak rindu tanpa jeda
Desahan hati meranum tajam
Mengoreskan tinta merah membentang
Bantu aku menerjemahkan rasa ini
Rasa yang tersusun pelan
Menyusupi tiap degup nafas
Tiap godaan canda membakar amarah raga
Tiap atur kata berbalas seribu detak
Rasa apa ini?
Membara aku dalam pesonamu
Terbuai manis kata semanis madu
Aku memudar bersama hujan yang menghapus panas
Aku bisa mewarna seperti pelangi
Kembali memeluk langit bila kau ingin
Terbang dan habis tanpa pamrih atas sabdamu
Selimut malam telah menghampar
Cahaya kunang kecil tak mampu terangkan
Seperti hati yang telah sakit
Terus menghitam pada keadaan
Memerah pada membaranya api
Tiup desah tak mampu goyangkan hati yang beku
Bahkan topan hanya mampu membuatnya berkedip
Siapa gerangan dapat melumerkan hati
Membasah membahana
Kugaris namamu dengan satu jeda nafas
Mencekap rindu teramat disudut ventrikel
Ratusan reseptor menyerah lelah dengan keadaan
Ketika namamu disebut…
Dentumkan ribuan synaps
Meloncat dalam kadar tertinggi afinitas
Membingkai bayangmu jelas ditiap gyrus otakku
Hati ini luruh dalam jangkauanmu
Sudah aku bilang akan kubuka jutaan aksara untukmu
Juga rindu yang aku pelajari dari bintang
Tahukah kalau hatiku tlah jatuh tanpa sebab
Tatapanmu cairkan darahku
Didihkan adrenalin
Debar jantungku tak terbendung karenamu
Dihujam tajam tiap sendi
Rasa remuk redam
Kucintai dengan hasrat cinta sederhana
Kudamba terbitmu dengan rindu tanpa jeda
Berjuta kali infeksimu racuniku
Tak tahan hati dengan rasa sakitnya
Antibody tlah cairkan beku darah
Rengkuhku dalam dekap hangatmu
Hentikan siksamu
Denganmu sebagi penawarnya
Kunanti tiap alunan waktu dengan setia
Tanpa jera kan kutunggu sajakmu
Kan kuhapus jejakmu agar
Tak seorangpun tahu
Akan kujerat erat
Dalam indah dunia kita
“baru pada penglihatan laki-laki yang jernihlah dapat melihat wanita yang sholehah”